Jumat, 17 September 2010

penyebab hancurnya akhlak bangsa indonesia

     Secara global dunia dikatakan semakin maju dengan berbagai temuan teknologi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan riset di berbagai bidang keilmuan.
Tapi faktanya, universitas-universitas kelas dunia, yang sibuk dengan urusan pemeringkatan riset ilmiah, justru gagal memberikan jawaban untuk masalah terorisme, perceraian, kebencian, permusuhan, iri hati, balas dendam, ketidakjujuran, korupsi, free sex, adiksi narkoba, dan berbagai bentuk kehancuran akhlak dan moral.
Indonesia pun kini tak mampu menepis ancaman kehancuran akhlak dan moral tersebut. Padahal, Indonesia adalah negara beragama. Ironis sekali, sekarang bangsa Indonesia mengalami degradasi moral, sebab pendidikan agama tak mampu lagi membangun moralitas di tengah masyarakat.
Fakta-fakta dan data tentang Indonesia, tak bisa ditutup-tutupi lagi. Tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi, pergaulan bebas, narkotika dan obat-obat terlarang sudah menjadi gaya hidup kaum muda Indonesia.
Bahkan, hasil survei Departemen Kesehatan 62,1% siswa mengaku pernah melakukan hubungan seks dan 21,2% pernah melakukan aborsi.
Menurut Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) jumlah pelacuran anak di Indonesia mencapai 30% dari total 150.000 pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi. Artinya, ada sekitar 45.000 pelacur anak dan remaja di seluruh Indonesia.
Empat juta situs porno secara leluasa diakses setiap hari dari Indonesia. Sekitar 97,2 % siswa SMU diperkirakan pernah mengakses situs porno.
Menurut data Kementerian Agama, pada tahun 2009, sedikitnya 250.000 kasus perceraian di Indonesia. Angka ini setara dengan 10% dari jumlah pernikahan pada tahun 2009 sebanyak 2,5 juta. Jumlah perceraian tersebut naik 50.000 kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200.000 perceraian.
Sederet rapor merah akhlak bangsa ini, yang jika diuraikan akan terdiri dari daftar yang sangat panjang.

Tanggung Jawab
Lalu, bagaimana cara mengatasinya? ”Penting keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk membentuk karakter anak yang positif. Kesuksesan suatu bangsa dipengaruhi oleh budaya bangsa yang kuat,” kata Rektor Universitas Paramadina Anes Baswedan dalam seminar Dampak Pendidikan Agama terhadap Moral Masyarakat di Jakarta, Kamis (29/7).
Dia menegaskan, pendidikan menjadi tanggung jawab seluruh bangsa. ”Upaya mencerdaskan bangsa bukan semata-mata tanggung jawab instititusi pemerintah,” katanya.
Kini Universitas Paramadina sudah maju selangkah. ”Kami satu-satunya universitas di dunia yang memiliki mata kuliah antikorupsi dan mewajibkan semua mahasiswanya mengambil mata kuliah tersebut. Ini adalah salah satu bentuk mendidik anak-anak bangsa untuk antikorupsi,” katanya.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat menuturkan, kekuatan moral ada dalam diri manusia. Setiap orang menyukai kebaikan, kejujuran, dan kebenaran.
“Karena sekolah dan keluarga mempengaruhi karakter seseorang, maka sangat berperan menciptakan lingkungan yang baik. Nilai agama harus dilembagakan jangan hanya sekadar imbauan,” katanya.
Negara sukses dipengaruhi oleh karakter bangsa. ”Masalahnya, Indonesia belum memiliki karakter bangsa yang kuat seperti Jepang dan Tiongkok. Jadi, harus ada misi membentuk karakter bangsa dengan hukum dan etika sosial yang kokoh, dengan pembangunan karakter dan kebiasaan yang kuat,” tandasnya.
Aktivis anak, Kak Seto Mulyadi menyatakan, mendidik anak harus dengan hati, tanpa kekerasan. ”Sayangnya, anak-anak ditekan dengan banyaknya beban untuk cerdas pada semua bidang pelajaran, padahal kecerdasan tiap anak berbeda. Pada dasarnya anak baik, tetapi akibat perlakuan orangtua yang penuh dengan kekerasan, anak-anak menjadi berperilaku buruk,” katanya.

Pengaruh Iptek
Wijayanto, Deputi Rektor untuk Kerja Sama, Pengembangan Bisnis, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina mengungkap keprihatinannya atas akhlak yang makin merosot.
”Akibat kemajuan iptek, terjadi pergeseran lifestyle, cara pandang dan mungkin juga values di kalangan anak muda. Kini, teman pergaulan mempunyai pengaruh lebih besar daripada guru, orang tua, dan saudara,” kata Master di bidang kebijakan publik dari Georgetown University, USA itu prihatin.
Jumlah anak muda berusia 12-25 tahun di Indonesia mencapai sekitar 30% populasi, atau sekitar 70 juta. Sekitar 43% di antaranya, katanya, menghabiskan 2-3 jam per-hari online. Sekitar 31% menghabiskan sekitar 4-5 jam per-hari. Rata-rata pemuda mempunyai 96 nomor telepon di HP-nya.
Peran media massa dalam kemunduran moral bangsa ini juga tidak dapat diabaikan. Betapa tidak, keluarga Indonesia disuguhi tayangan infotainment setidaknya 46 kali setiap hari yang ditayangkan antara pukul 06.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB oleh berbagai stasiun televisi.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sebagian besar tayangan infotainment tersebut, tidak mendidik karena materi yang disiarkan banyak membahas tentang pacaran suka-suka, seks bebas, perceraian, perselingkuhan, balas dendam, permusuhan, hura-hura, bahkan urusan ranjang suami-istri.
”Bahkan, 10 dari 75 tayangan televisi swasta di Indonesia sangat tidak mendidik dan dinilai dapat merusak moral bangsa jika terus-menerus dipertontonkan,” katanya.
Liputan media cetak, tayangan film, VCD/DVD porno dan acara TV yang menampilkan adegan seks dan pornografi sulit dibatasi, sehingga memicu tindakan kejahatan asusila, seperti penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA).
Menurut Symantec Asia, tiga dari sepuluh orangtua di Indonesia tidak waspada terhadap konten yang dikonsumsi anak-anak yang sedang online. Padahal, masyarakat Indonesia paling doyan ”mengonsumsi” dunia maya.
Buktinya, jumlah pengguna Facebook di Indonesia terbesar ketujuh di dunia hampir 6.500.000, dengan pertumbuhan tertinggi di dunia 3.000%. Indonesia juga tercatat sebagai pengguna Twitter terbesar keenam di dunia
Pengaruh teknologi itu, dari tanggal 14-23 Juni 2010, paling sedikit 33 anak berusia antara 4-12 tahun diperkosa gara-gara video porno Ariel, menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). ”Sejujurnya, Ariel hanyalah contoh kecil puncak gunung es imoralitas yang sedang terjadi,” katanya.
Faktanya, menurut LKBN Antara, setiap tahun jumlah pemerkosaan di Indonesia 1.500 hingga 2.000 kasus.
Dikatakan, pendidikan agama di sekolah dijadikan tanggung jawab guru agama. Guru yang mengajar pelajaran lain tidak terpanggil untuk memberikan pendidikan agama.
”Bahkan di berbagai negara, agama semakin ditinggalkan sebab perguruan tinggi hanya mengandalkan kemampuan kognitif, dan menjadi pusat munculnya ajaran-ajaran ateisme,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar